Uniknya Cerita Cinta di New York

Uniknya Cerita Cinta di New York
Uniknya Cerita Cinta di New York

SEPERTI halnya Paris, Je T’Aime (2006), New York, I Love You pun berupa antologi. Sepuluh film pendek berdurasi sekitar 8 menit. Syutingnya konon hanya 2 hari (masing-masing) serta satu minggu proses menyunting.

Tapi berbeda dengan Paris yang memenggal masing-masing film, New York memilih menyatukan semuanya, meski tak ada keterkaitan antara satu dan yang lain. Kalau ini sukses, sepertinya proyek selanjutnya akan terus, yakni syuting di Rio de Janeiro.

New York punya keunikan dengan beragam etnis yang menjadi warganya. Lihat segmen yang digarap Mira Nair. Rifka (Natalie Portman) yang akan menikahi orang Yahudi, sempat bertransaksi dengan Mansuhkhbai (Irrfan Khan), penjual berlian keturunan India. Shu Qi dan Maggie Q tampil di dua segmen berbeda.

Salah satu cerita yang menarik, segmen yang diisi Shia LaBeouf, John Hurt, dan aktris gaek Julie Christie. Agak misterius dan tak banyak dialog. Isabelle (Christie) dulunya penyanyi opera terkenal. Saat menginap di sebuah hotel, ia bertemu dengan Jacob (LaBeouf), bellboy yang punya raga kurang sempurna. Toh bukan berarti Jacob tak bisa bekerja dengan baik. Meski singkat, pertemuan ini begitu dalam maknanya.

Skenario bikinan mendiang Anthony Minghella ini kemudian digarap Shekhar Kapur. Ada lagi cerita yang sangat simpel yang diisi Orlando Bloom dan Christina Ricci. Banyak diisi obrolan lewat telepon, pada akhirnya mereka bertemu dengan alasan yang diutarakan Camille (Ricci). Alasan yang unik. Cerita yang menyentuh digambarkan lewat akting dua aktor yang sudah tak lagi muda, Eli Wallach dan Cloris Leachman.

Walau tak dibilang suami-istri, dialog Abe (Wallach) dan Mitzie (Leachman) sangat tipikal obrolan dua manusia yang sangat dekat, akrab, dan intim. Keintiman ditunjukkan saat keduanya akhirnya terdiam sambil menatap laut. Begitu damai. Hingga muncul 2 pemuda yang dengan gaduhnya main skateboard.

Kalau gambaran beberapa cerita dianggap kurang nendang, itu tandanya Anda harus lebih memahaminya dengan menonton New York di bioskop. Setelah New York dan mungkin Rio, mungkinkah film ini menyambangi Indonesia? Adakah kota di negeri ini yang layak disebut the city of love?

(ati/gur)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *