Prita: Saya Tidak Akan Membayar Omni dengan Koin Keadilan

Prita: Saya Tidak Akan Membayar Omni dengan Koin Keadilan
Prita: Saya Tidak Akan Membayar Omni dengan Koin Keadilan

WANITA itu duduk membisu. Di hadapannya, Ketua Majelis Hakim Arthur Sagewa sedang membacakan putusan atas kasus yang menderanya hampir satu tahun terakhir. Masayarakat yang datang ke ruang sidang utama Pengadilan Negeri Tangerang, Banten menyimak dengan serius tiap perkataan Hakim.

“Dengan ini, Prita divonis bebas dari tuduhan pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional,” tegas Arthur Sagewa. Ucapan Ketua Majelis Hakim yang menggelar persidangan pidana Prita vs Omni itu sontak membuat riuh suasana ruang sidang. Serentak penonton dan para pendukung Prita bertepuk tangan. Mereka yang hadir di sidang pembacaan putusan ini adalah para simpatisan yang sedari awal kasus bergulir konsisten mendukung Prita. Kami sempat mengenali beberapa wajah yang juga terlibat sebagai sukarelawan di Posko Koin Keadilan Prita. Mereka semua turut menjadi saksi momen tegaknya keadilan Selasa (29/12) pagi itu.

Hanya beberapa detik sebelum akhirnya Prita sadar ia telah bebas dari jerat hukum. Tak terasa, air mata menetes di pipi ibu kedua anak itu. Tak banyak kata terucap dari pegawai Bank Sinarmas ini. Ucapan selamat segera mengalir diringi jabatan tangan. Kembali, Prita menjadi “bintang”. Ucapan tanda kemenangan datang dari para kuasa hukum Prita. “Kami menilai hakim bersifat objektif. Ia memutuskan berdasarkan fakta persidangan yang ada. Kami sangat apresiatif,” tandas kuasa hukum Prita, Slamet Juono.

Sementara, sebagai pihak yang kalah, Riyadi sang Jaksa Penuntut Umum menghormati putusan Majelis Hakim. “Saya tidak mau ambil kesimpulan apa-apa. Saya menghormati keputusan Hakim. Jujur, perasaan kaget ada ketika mendengar putusan ini,” tukas Riyadi. “Saya akan pikir-pikir selama 14 hari terhadap putusan ini. Biar Mahkamah Agung yang menilai Prita bebas secara murni atau tidak,” lanjut Riyadi. Pasalnya, dukungan masyarakat dan kalangan elite politik yang begitu tinggi kepada Prita menimbulkan anggapan putusan hakim tidak bersifat objektif.

Toh, bayang-bayang jeruji penjara bisa lepas dari mimpi buruk ibu Khairan Ananta Nugroho dan Ranarya Puandita ini. Ditemui di kediamannya di kawasan Bintaro, Banten, Prita mengaku mulai bernapas lega. “Jujur, awalnya saya sempat bingung dan tidak menyadari putusan hakim. Saya hanya bisa menangis saja. Subhanallah,” tutur Prita. Beberapa hari sebelum putusan, Prita siap dengan kemungkinan terburuk. “Saya berpikir positif saja. Apa pun keputusannya, itulah yang akan terjadi. Saya tidak memperkirakan dukungan masyarakat yang begitu besar terhadap saya bisa membuat saya bebas,” bilang Prita.

Babak Terakhir Prita dan Nasib Koin Keadilan

Akan tetapi, Prita belum bisa tidur nyenyak sepenuhnya. Jika Omni dalam waktu dekat tidak mengajukan banding, praktis Prita masih harus berhadapan dengan rumah sakit yang pernah merawatnya itu satu kali lagi.

Babak terakhir itu bernama perkara perdata. Perkara yang dilancarkan Omni Internasional dengan menggugat Prita sebesar 204 juta rupiah. Perkara yang mengundang reaksi masyarakat dan berujung dengan pengumpulan koin keadilan. Berbeda dengan perkara pidana yang sudah menghasilkan putusan, perkara perdata Prita masih tersangkut di Mahkamah Agung. Prita sedang melakukan perlawanan terakhir, mengajukan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi Banten yang memenangkan RS Omni Internasional.

“Perkara perdata Ibu Prita masih berjalan. Saat ini sedang ditangani oleh Mahkamah Agung,” tutur Slamet. Meski jumlah koin keadilan telah mencapai 825.728.550 rupiah, Prita tetap berjuang untuk terhindar dari tuntutan materi yang diminta RS Omni Internasional. Memang, sejak jauh-jauh hari, kepada kami Prita mengaku tidak akan menggunakan uang itu. “Meski saya keberatan terhadap putusan perdata di mana saya diharuskan membayar 204 juta rupiah, saya tidak akan membayar itu dengan uang yang dikumpulkan kawan-kawan di Posko Koin Keadilan,” ujar Prita.

Lantas ke mana berlabuhnya uang yang dikumpulkan dari berbagai kalangan itu? “Saat ini sedang dihitung ulang oleh Bank Indonesia. Saya akan berkoordinasi dengan teman-teman di Posko Koin Keadilan, akan dikemanakan uang itu,” jawab Prita. Sebelumnya, Prita menginginkan uang itu diberikan kepada yayasan yang bermisi kemanusiaan. “Saya inginnya itu untuk misi kemanusiaan, tapi saya yakin teman-teman di Posko juga memiliki niat yang mulia,” cetusnya.

Saat ini Prita berada di atas angin. Tuduhan pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional tidak terbukti. “Ia akan menjadi bukti dalam perkara perdata,” tandas Slamet. Namun, meski memiliki potensi menang melawan Omni dalam perkara perdata, nampaknya Prita tidak terlalu ambil pusing. “Jujur, yang saya khawatirkan selama ini adalah hukuman badan (dipenjara). Karena itu akan membuat saya berpisah lagi dengan anak-anak,” urainya.

Prita siap membuka pintu damai terhadap RS Omni Internasional. Bahkan, melalui pengacaranya, Prita bisa saja mencabut gugatan balik yang ia alamatkan kepada RS Omni Internasional sebesar 1 triliun rupiah. “Kami tidak akan meminta uang 1 triliun rupiah. Kami hanya ingin RS Omni meminta maaf kepada ibu Prita. Minta maaf itu bisa dalam bentuk apa saja, termasuk datang ke rumah ibu Prita dan bersilaturahim,” tekan Slamet.

(jul/gur)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *